Senin, 20 Februari 2012

J-Dorama Orthros no Inu


Hmmmm... lagi lihat-lihat dvd di hanamachi tiba-tiba melihat dvd dengan cover Takki-kun^^ dan Nishikido-kun^^ langsung deh tanpa pikir panjang dibeli tuh drama. Aku baru tau ternyata itu drama live action dari anime. Akhirnya aku tonton tuh drama baru aja episod pertama tuh drama dah seru banget... btw lihat tuh drama kaya lihat Death Note "Kira vs L" klo ini "Ryuzaki vs Aoi" disini ceritanya Ryuzaki (Takizawa Hideaki) memiliki kekuatan “God Hand” yang bisa menyembuhkan apa saja hanya dengan menyentuhnya tetapi Ryuzaki memiliki sifat jahat dan tak terduga, sedangkan Aoi (Nishikido Ryo) memiliki kekuatan sebaliknya yaitu “Demon’s Hand” yang dapat membuhun hanya dengan menyentuhnya tetapi Aoi orang yang sangat baik dan sama sekali tidak ingin membunuh. Beberapa episod aku tonton semakin seru ceritanya... ada juga Detektif Hasebe Nagisa (Mizukawa Asami) yang sepertinya menarik perhatian Ryuzaki tapi sang Detektif sangat membenci Ryuzaki... 





Karena nontonnya belum selesai jadi ga banyak yang bisa diceritain, pokonya kalau pingin nonton drama yang seru ditambah para pemainnya yang uhuuhuuu... apalag si Takki booo disini keren bgt >.<

Ohhh... ada lagi selain yang mainnya Takizawa Hideaki dan Nishikido Ryo ada juga Oshinari Shugo tpi dsini aku kurang suka ama perannya^^,,, kyaaa... lengkap sudah tiga-tiganya my favorite >.<
eh satu lagi... Yaotome Hikaru dari Ya-Ya-yah, Hey!Say! JUMP dia jadi anak pejabat yang badung gitulahhh...

Bagi yang tertarik silahkan tontonlah dramanya... Theme song juga enak Hikari Hitotsu yang nyanyi Takizawa Hideaki >.<

Akhirnya saya dah nonton sampai akhir wowwwwww kuerennn "all episode totally best scenarios" walau scene akhir rada2 bingung dan menimbulkan??? berharap ada lanjutannya hahahaa... kerennn eung bisa menciptakan karakter seperti Ryuzaki >_<





Satu lagi harapan saya dari drama ini, kenapa seh Ryuzaki gak jadian aja ama Haseba ?? ^0^

*Btw sebenernya neh cerita lama dri MP ku

Jumat, 03 Februari 2012

Matsuri


BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang

Jepang dikenal sebagai negara yang paling banyak mengadakan festival (matsuri). Boleh dikatakan hampir setiap bulannya ada saja festival yang dirayakan di Negeri Sakura itu. Sebenarnya, festival di Jepang dirayakan bukan semata-mata untuk bersenang-senang, tapi di balik semua itu ada kepercayaan terhadap dewa yang diagungkan oleh orang Jepang. Kata matsuri sendiri adalah kata dalam bahasa Jepang yang menurut pengertian agama Shinto berarti ritual yang dipersembahkan untuk Kami, sedangkan menurut pengertian sekularisme berarti festival, perayaan atau hari libur perayaan. Jadi, setiap festival memiliki makna penyembahan terhadap dewa.
Matsuri diadakan di banyak tempat di Jepang dan pada umumnya diselenggarakan jinja atau kuil, walaupun ada juga matsuri yang diselenggarakan gereja dan matsuri yang tidak berkaitan dengan institusi keagamaan. Di daerah Kyushu, matsuri yang dilangsungkan pada musim gugur disebut Kunchi
Sebagian besar matsuri diselenggarakan dengan maksud untuk mendoakan keberhasilan tangkapan ikan dan keberhasilan panen (beras, gandum, kacang, jawawut, jagung), kesuksesan dalam bisnis, kesembuhan dan kekebalan terhadap penyakit, keselamatan dari bencana, dan sebagai ucapan terima kasih setelah berhasil dalam menyelesaikan suatu tugas berat. Matsuri juga diadakan untuk merayakan tradisi yang berkaitan dengan pergantian musim atau mendoakan arwah tokoh terkenal. Makna upacara yang dilakukan dan waktu pelaksanaan matsuri beraneka ragam seusai dengan tujuan penyelenggaraan matsuri. Matsuri yang mempunyai tujuan dan maksud yang sama dapat mempunyai makna ritual yang berbeda tergantung pada daerahnya.
Pada penyelenggaraan matsuri hampir selalu bisa ditemui prosesi atau arak-arakan Mikoshi, Dashi (Danjiri) dan Yatai yang semuanya merupakan nama-nama kendaraan berisi Kami atau objek pemujaan. Pada matsuri juga bisa dijumpai Chigo (anak kecil dalam prosesi), Miko (anak gadis pelaksana ritual), Tekomai (laki-laki berpakaian wanita), Hayashi (musik khas matsuri), penari, peserta dan penonton yang berdandan dan berpakaian bagus, dan pasar kaget beraneka macam makanan dan permainan.

Kemeriahan pasar kaget (Hana Matsuri-Ayu Matsuri)


Kios-kios yang berjualan mainan atau makanan sering ditemukan di festival-festival di Jepang

B.       Sejarah Matsuri
Matsuri berasal dari kata matsuru (menyembah, memuja) yang berarti pemujaan terhadap Kami atau ritual yang terkait. Dalam teologi agama Shinto dikenal empat unsur dalam matsuri: penyucian (harai), persembahan, pembacaan doa (norito), dan pesta makan. Matsuri yang paling tua yang dikenal dalam mitologi Jepang adalah ritual yang dilakukan di depan Amano Iwato.
Matsuri dalam bentuk pembacaan doa masih tersisa seperti dalam bentuk Kigansai (permohonan secara individu kepada jinja atau kuil untuk didoakan dan Jichinsai (upacara sebelum pendirian bangunan atau konstruksi). Pembacaan doa yang dilakukan pendeta Shinto untuk individu atau kelompok orang di tempat yang tidak terlihat orang lain merupakan bentuk awal dari matsuri. Pada saat ini, Ise Jingū merupakan salah satu contoh kuil agama Shinto yang masih menyelenggarakan matsuri dalam bentuk pembacaan doa yang eksklusif bagi kalangan terbatas dan peserta umum tidak dibolehkan ikut serta.
Sesuai dengan perkembangan zaman, tujuan penyelenggaraan matsuri sering melenceng jauh dari maksud matsuri yang sebenarnya. Penyelenggaraan matsuri sering menjadi satu-satunya tujuan dilangsungkannya matsuri, sedangkan matsuri hanya tinggal sebagai wacana dan tanpa makna religius.

C.       Matsuri Terbesar

D.      Matsuri yang Terkenal Sejak Dahulu
1.        Daerah Tohoku
2.        Daerah Kanto


Chichibuyo Matsuri

3.        Daerah Chubu
4.        Daerah Kinki
5.        Daerah Chugoku dan Shikoku
6.        Daerah Kyushu

E.       Festival dan Matsuri yang Lain

F.        Pembahasan Masalah
Penulis hanya menulis tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Gion Matsuri, meliputi : pengertian Gion Matsuri, sejarah Gion Matsuri, prosesi Yamaboko, penyelenggara, atraksi, dan jadwal perayaan, juga daftar Yama dan Hoko, serta aneka tradisi lainnya.


BAB II
PEMBAHASAN

A.       Pengertian Gion Matsuri

Gion Matsuri adalah festival tahunan (matsuri) yang diadakan di Kyoto selama satu bulan penuh di bulan Juli. Perayaan dimulai pada tanggal 1 Juli yang ditandai dengan ritual Kippu iri dan diakhiri ritual Nagoshinoharae pada tanggal 30 Juli. Puncak-puncak perayaan Gion Matsuri berupa:
  • Yoiyoiyama (malam sebelum Yoiyama, 15 Juli)
  • Yoiyama (malam sebelum prosesi, 16 Juli)
  • Yamaboko-junkō (prosesi Yamaboko, 17 Juli).
Yamaboko adalah istilah untuk Yama dan Hoko. Yama adalah kendaraan beroda (float) besar dari kayu dengan hiasan megah dan ditarik oleh banyak orang. Hiasan kendaraan (kenshōhin) pada Yama berupa benda-benda keagamaan dan benda-benda seni seperti karpet yang didatangkan dari Eropa dan Tiongkok melalui Jalan Sutra. Perdagangan dengan Dinasti Ming mencapai puncaknya pada zaman Muromachi, sehingga motif dari luar negeri banyak dipamerkan dalam Gion Matsuri. Masing-masing Yama mempunyai tema yang biasanya merupakan cerita dongeng yang berasal dari Tiongkok.
Hoko adalah jenis Yama dengan menara menjulang tinggi yang di ujung paling atasnya terdapat hoko (katana dengan mata di dua sisi) walaupun ada juga Hoko yang tidak bermenara. Hoko juga dijadikan panggung untuk kelompok orang berpakaian Yukata yang terdiri dari pemain musik Gionbayashi dan peserta yang berkesempatan naik karena memenangkan undian hasil membeli Chimaki atau Gofu (semacam jimat). Musik Gionbayashi yang menurut telinga orang Jepang berbunyi "Kon-chi-ki-chin" baru menjadi tradisi Gion Matsuri pada zaman Edo.

B.       Sejarah
Gion Matsuri adalah tradisi yang berasal dari sekitar 1.100 tahun yang lalu. Pada tahun 869 konon terjadi wabah penyakit menular yang mengganas di seluruh Jepang, sehingga perlu diadakan upacara yang disebut Goryō-e untuk menenangkan arwah orang yang meninggal karena wabah penyakit menular. Pendeta Shintō bernama Urabe Hiramaro membuat 66 pedang dengan mata di dua sisi (hoko) untuk persembahan kepada penjaga dari penyakit menular yang disebut dewa Gozutennō. Jumlah Hoko yang dibuat sesuai dengan jumlah negara-negara kecil (kuni) yang terdapat di Jepang pada saat itu. Upacara ini kemudian dikenal sebagai Gion Goryō-e, yang kemudian penyebutannya disingkat menjadi Gion-e.
Sejak tahun 970 upacara terus diselenggarakan setiap tahun hingga menjadi Gion Matsuri seperti sekarang ini. Prosesi Yamaboko seperti yang dikenal sekarang ini konon berasal dari tahun-tahun akhir zaman Heian. Gion Matsuri sempat tidak diselenggarakan sewaktu Perang Onin, akibat kebakaran besar di era Hōei, era Temmei dan era Genji, serta serangan udara pada Perang Dunia II. Gion Matsuri kemudian dihidupkan kembali oleh warga kota yang merupakan pengusaha yang berpengaruh (machishū).
Berbeda dengan Gion Matsuri yang dikenal sekarang ini, prosesi Yamaboko yang menjadi puncak perayaan Gion Matsuri pada tahun 1966 dilakukan dalam dua tahap:
  • Zensai (prosesi Yama dan Hoko pada tanggal 17 Juli)
  • Ato Matsuri (prosesi Yama saja pada tanggal 24 Juli).

C.       Prosesi Yamaboko
Klimaks Gion Matsuri berupa prosesi Yamaboko berlangsung tanggal 17 Juli pagi di jalan Karasuma-dōri, Shijō. Naginataboko yang menjadi pembuka prosesi Yamaboko, gambar terlihat di depan. Pada zaman sekarang, Yama dan Hoko yang ikut serta dalam prosesi berjumlah 32 buah. Prosesi Yama dan Hoko di jalan utama kota Kyoto dipercaya dapat mengumpulkan segala penyakit menular. Yama dan Hoko pulang ke lokasinya masing-masing setelah puncak perayaan selesai untuk segera dibongkar dan disimpan di gudang. Yama dan Hoko konon harus segera dibongkar sebelum penyakit menular kembali berjangkit di permukiman penduduk.

D.      Penyelenggara
Gion Matsuri yang diselenggarakan secara bersama oleh kuil Ayatokunaka dan kuil Yasaka merupakan salah satu dari tiga festival terbesar di Kyoto bersama-sama dengan Aoi Matsuri (kuil Kamowakeikazuchi & kuil Kamomioya) dan Jidai Matsuri (kuil Heianjingū).
Gion Matsuri juga diselenggarakan di beberapa tempat di Jepang oleh berbagai kuil agama Shintō (jinja) yang menyandang sebutan kuil Gion (gion-sha). Di kota Fukuoka (Kyushu) setiap tahunnya di bulan Juli juga diselenggarakan Hakata Gion Yamakasa.
Kyoto Gion Matsuri adalah salah satu dari tiga festival terbesar di Jepang bersama-sama dengan Kanda Matsuri dan Tenjinmatsuri.

E.       Atraksi
1.        Pameran peninggalan budaya
Pada malam Yoiyoiyama dan Yoiyama terdapat tradisi memamerkan benda-benda peninggalan budaya bernilai tinggi yang disebut Byōbu Matsuri (festival lukisan penyekat ruangan). Pameran ini diselenggarakan di rumah-rumah keluarga pengusaha yang berpengaruh (machishū) yang terletak di sekitar jalan raya utama Karasuma-dōri. Pengunjung dapat melihat barang-barang yang menjadi kebanggaan pemilik rumah.
2.        Penjualan obral
Di saat berlangsungnya Gion Matsuri banyak toko-toko yang berada di sekitar lokasi Yama dan Hoko melakukan penjualan kimono, yukata dan perlengkapannya serta barang-barang produksi khas Kyoto seperti kipas lipat tradisional (sensu) dengan harga murah.
3.        Tsuji mawashi
Hoko yang berukuran besar mempunyai ketinggian yang sama dengan gedung berlantai empat atau lima, sehingga penonton banyak yang menantikan saat Hoko berbelok di persimpangan jalan yang disebut Tsuji mawashi. Salah satu Hoko yang diberi nama Naginatahoko menjadi pusat perhatian pada saat berbelok karena Hoko ini mempunyai berat sekitar 10 ton. Roda-roda yang dimiliki Hoko tidak bisa dibelokkan dengan mudah di atas aspal, sehingga roda harus lebih dulu dialas potongan-potongan bambu yang disiram air agar Hoko dapat berbelok dengan mulus.
4.        Chigo
Chigo adalah sebutan untuk anak-anak yang dijadikan bintang dalam Matsuri. Gion Matsuri terkenal dengan Chigo berupa anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun yang didandani dengan riasan tebal. Naginatahoko merupakan satu-satunya Hoko yang berisi Chigo sedangkan pada Hoko yang lain digantikan dengan boneka anak laki-laki. Naginatahoko juga merupakan Hoko terpenting yang tidak boleh dinaiki oleh wanita.
Pada bulan Juni setiap tahunnya juga dilakukan pemilihan Kamuro yang terdiri dari 2 orang anak laki-laki yang dilahirkan keluarga kaya di Kyoto. Kamuro berperan sebagai pendamping (kerai) yang berdiri di samping kiri dan kanan Chigo.
Pada tanggal 1 Juli, Chigo yang sudah dirias tebal melakukan berbagai macam ritual yang dimulai dengan ritual Osendo bersama para pengikut kuil di kuil Yasaka. Di kuil Yasaka pada tanggal 13 Juli, Chigo yang sudah berdandan lengkap dengan baju kebesaran menerima gelar Shōgo-i shōshō (setara dengan daimyo yang menerima 1.000.000 koku ). Setelah menerima gelar, Chigo dilarang berhubungan dengan keluarga dan dilarang bertemu dengan perempuan hingga berakhirnya puncak acara pada tanggal 17 Juli.
Pada prosesi Yamaboko, Chigo berpakaian lengkap kimono Furisode dengan bahan kain bercampur serat emas, celana Hakama, dengan mahkota burung Phoenix di atas kepala. Salah satu tugas Chigo dalam prosesi Yamaboko disebut Shimenawagiri berupa pemotongan tambang menggunakan katana yang menandai dimulainya prosesi Yamaboko.

F.        Jadwal perayaan



Minami Kannonyama di malam Yoiyama

  • 1 Juli Kippu iri (ritual yang menandai dimulainya Gion Matsuri).
  • 2 Juli Kujitori shiki (upacara penarikan undian)
Urutan prosesi Yamaboko dilakukan melalui undian di balai kota yang dihadiri DPRD Kyoto dan walikota Kyoto. Tradisi penarikan undian sudah dilakukan sejak zaman Muromachi dengan maksud untuk menghindari Yamaboko saling berebut tampil lebih dulu dalam prosesi. Prosesi dibagi menjadi dua kelompok. Pada prosesi kelompok I, Naginataboko selalu diberi urutan nomor 1 sebagai pembuka jalan, Kankokuboko di urutan nomor 5, Hōkaboko di urutan nomor 21, Iwatoyama di urutan nomor 22, dan Funaboko di urutan nomor 23 (urutan terakhir). Pada prosesi kelompok II, Kita Kannonyama selalu mendapat kesempatan pertama, diikuti oleh Hashibenkeiyama, dan Minami Kannonyama. Pada zaman dulu, jalan utama Shijō-dōri masih berupa jalan yang sempit sehingga Naginataboko yang lokasinya menutupi ujung jalan harus dijalankan lebih dulu agar Yamaboko yang lain bisa lewat.
  • 10 Juli Mikoshi arai
Di malam hari pada pukul 20:00 dilakukan pencucian Mikoshi (tandu dewa Shinto) di sungai Kamo dengan penerangan obor. Upacara pencucian Mikoshi dapat disaksikan dari atas jembatan Shijō-ōhashi.
  • 10-13 Juli Perakitan Yama dan Hoko
  • 14 Juli Yoiyoiyoiyama
Yama dan Hoko dipamerkan di lokasi masing-masing dengan dihiasi puluhan lampion. Pameran barang-barang bernilai budaya tinggi (Byōbu Matsuri) diadakan di rumah-rumah keluarga pengusaha yang berpengaruh. Pasar kaget yang menyediakan berbagai macam makanan, minuman dan permainan meramaikan pusat kota Kyoto yang untuk sementara dikhususkan untuk pejalan kaki.
  • 15 Juli Yoiyoiyama
Malam kedua pameran Yamaboko dan Byōbu Matsuri
  • 16 Juli Yoiyama
Malam terakhir pameran Yamaboko dan Byōbu Matsuri
  • 17 Juli Puncak perayaan Gion Matsuri yang disebut prosesi Yamaboko-junkō dimulai pukul 09:00 pagi. Yama dan Hoko ditarik oleh banyak orang di depan puluhan ribu penonton dengan tujuan untuk menyucikan kota.
  • 17 Juli Jinkōsai (prosesi Mikoshi) yang dimulai pukul 17:00 sampai 21:00. Kami (dewa) dari kuil Yasaka diusung dengan menggunakan tiga buah Mikoshi (Higashigoza, Nakagoza, dan Nishigoza) dengan melewati rumah-rumah pengikut kuil Yasaka menuju tujuan perjalanan (O-tabisho) yang terdapat di Shijō Teramachi dan menginap selama 7 malam di sana. O-tabisho yang digunakan sekarang ini adalah tempat yang dihadiahkan istana kaisar pada tahun 974.
  • 24 Juli Hanagasa-junkō (prosesi Hanagasa yang merupakan pengganti Ato Matsuri)
  • 24 Juli Kankōsai (prosesi Mikoshi)
Kami dan Mikoshi kembali ke kuil Yasaka dengan melewati rumah-rumah pengikut kuil Yasaka.
  • 28 Juli Mikoshi arai (pencucian Mikoshi)
  • 30 Juli Akhir perayaan Gion Matsuri yang disebut Nagoshimatsuri di kuil Eki.

G.      Daftar Yama dan Hoko


Ayagasaboko, salah satu contoh Hoko tanpa menara


Funaboko



Kikusuiboko

·        Hoko
º          Naginataboko
º          Kankokuboko
º          Niwatorihoko
º          Tsukihoko
º          Funaboko
º          Ayagasaboko
º          Shijōkasaboko
º          Kikusuiboko
º          Hōkaboko

·        Yama
º          Iwatoyama
º          , IwatoyamaHōshōyama
º          Kakkyoyama , Kakkyoyama
º          Hakugayama
º          , Hōshōyama, HakugayamaAshikariyama
º          , AshikariyamaAburatenjinyama
º          , AburatenjinyamaTokusayama
º          , TokusayamaTaishiyama
º          Hakurakutenyama , Hakurakutenyama
º          Mōsōyama
º          Uradeyama, Uradeyama
º          Yamabushiyama
º          Araretenjinyama
º          Tōrōyama
º          Kita Kannonyama
º          Minami Kannonyama
º          Hashibenkeiyama
º          Koiyama
º          Jōmyōyama
º          Kuronushiyama
º          Ennogyōjayama
º          Suzukayama
º          Hachimanyama , Taishiyama
, Mōsōya, Suzukaya, Hachimanyama
·        Yasumiyama (Yakeyama): Yamaboko yang sekarang tidak bisa ikut serta dalam prosesi karena alasan tertentu dari warga kota pemiliknya atau rusak berat akibat kebakaran besar.
º          Hoteiyama , Hoteiyama: Menurut catatan sejarah, Hoteiyama turut serta dalam prosesi di tahun 1500, tapi tidak ikut serta sepanjang pertengahan zaman Edo (1751 - 1763). Pada kebakaran besar di era Temmei, semua bagian Yama hangus terbakar kecuali objek pemujaan (go-shintai) berupa Hotei (Budai atau "Buddha Tertawa") dan dua patung anak-anak yang selamat. Patung Budai sekarang ini masih dipuja orang pada malam Yoiyama. Plat cetak dari kayu produksi era Ansei yang digunakan untuk mencetak omamori (jimat) untuk Hoteiyama berhasil ditemukan pada tahun 2005. Pada tahun 2006 kain tenunan yang digunakan sebagai hiasan Hoteiyama juga berhasil ditemukan dalam penyimpanan milik salah satu industri lokal. Replika hiasan Hoteiyama ikut dipamerkan pada malam Yoiyama.
º          Takayama , Takayama: Takayama berasal dari zaman sebelum Perang Onin dan berada tepat sebelum Ōfuneboko dalam urutan prosesi, tapi hiasan kendaraan (kenshōhin) pada Takayama rusak akibat hujan lebat di sore hari di tahun 1826. Bangunan kendaraan ikut terbakar dalam kebakaran besar yang menyertai peristiwa Pemberontakan Hamaguri. Sisa-sisa Takayama berupa objek pemujaan dan hiasan kendaraan ikut dipamerkan pada malam Yoiyama.
º          Ōfuneboko , Ōfuneboko: Objek pemujaan berupa patung Jingū-kōgō (istri kaisar) dan hiasan kendaraan selamat namun bangunan kendaraan musnah terbakar dalam kebakaran besar Pemberontakan Hamaguri tahun 1864. Musik (hayashi) khas Ōfuneboko berhasil dihidupkan kembali pada tahun 1996 berkat bantuan pendukung Iwatoyama, sedangkan objek pemujaan dipamerkan pada malam Yoiyama.

H.      Aneka tradisi
1.        Chimaki
Chimaki adalah kue dari tepung beras ketan dibungkus daun bambu yang berfungsi sebagai penolak bala yang digantung di genteng nok pintu masuk rumah di Jepang. Chimaki banyak dijual di dekat diparkirnya Yama selama perayaan Gion Matsuri.
Konon pada zaman dulu, dewa kuil Yasaka yang bernama Susano Onomikoto yang sedang dalam perjalanan mencari-cari tempat untuk bermalam. Secara tidak terduga, orang miskin yang bernama Sominshōrai menyambut hangat kedatangan dewa Susano Onomikoto dan memberi tempat menginap. Sebagai ucapan terima kasih, dewa Susano Onomikoto berjanji memberikan kekebalan penyakit menular untuk seluruh anak cucu keturunan Sominshōrai. Dewa juga memberikan Chinowa (lingkaran dari anyaman daun bambu) untuk digantung di pinggang Sominshōrai agar kebal terhadap penyakit menular. Chinowa merupakan asal-usul kue Chimaki yang juga dibungkus daun bambu.
2.        Tari Sagimai
Tari Sagimai (tari burung Kuntul) merupakan tari persembahan untuk para dewa yang diselenggarakan di kuil Yasaka pada malam Yoiyama, 17 Juli, dan 24 Juli. Penari terdiri dari dua orang yang mengenakan pakaian putih bersayap dari kain sutra dan berperan sebagai burung Kuntul jantan dan betina. Penyelenggaraan tari Sagimai dibiayai oleh pengikut kuil Yasaka.
Tari Sagimai dulunya dilakukan dengan mengelilingi salah satu Hoko bernama Kasasagihoko yang sudah punah 600 tahun yang lalu. Pada pertengahan zaman Edo, tari Sagimai menghilang dari Gion Matsuri, namun tetap dilestarikan di kota Tsuwano, Prefektur Shimane. Pada tahun 1956 hingga tahun 2005, penyelenggaraan tari Sagimai dihidupkan kembali di Gion Matsuri dengan mengambil tari Sagimai yang terdapat di Prefektur Shimane.


BAB III
KESIMPULAN

Dari berbagai pendapat dan sumber terpercaya akhirnya penulis dapat mengambil kesimpulan :
  1. Gion Matsuri adalah festival tahunan (matsuri) yang diadakan di Kyoto selama satu bulan penuh di bulan Juli.
  2. Sejarah Gion Matsuri adalah merupakan tradisi yang berasal dari sekitar 1.100 tahun yang lalu.
  3. Klimaks Gion Matsuri berupa prosesi Yamaboko berlangsung tanggal 17 Juli pagi di jalan Karasuma-dōri, Shijō.
  4. Gion Matsuri yang diselenggarakan secara bersama oleh kuil Ayatokunaka dan kuil Yasaka merupakan salah satu dari tiga festival terbesar di Kyoto bersama-sama dengan Aoi Matsuri (kuil Kamowakeikazuchi & kuil Kamomioya) dan Jidai Matsuri (kuil Heianjingū) dan juga dilaksanakan di beberapa tempat di Jepang.
  5. Atraksi diantaranya, pameran peninggalan budaya, penjualan obral, tsuji mawashi, dan chigo.
  6. 1 Juli Kippu iri (ritual yang menandai dimulainya Gion Matsuri), 2 Juli Kujitori shiki (upacara penarikan undian), 10 Juli Mikoshi arai, 10-13 Juli Perakitan Yama dan Hoko, 14 Juli Yoiyoiyoiyama, 15 Juli Yoiyoiyama, 16 Juli Yoiyama, 17 Juli Puncak perayaan Gion Matsuri yang disebut prosesi Yamaboko-junkō, 17 Juli Jinkōsai (prosesi Mikoshi), 24 Juli Hanagasa-junkō (prosesi Hanagasa yang merupakan pengganti Ato Matsuri), 24 Juli Kankōsai (prosesi Mikoshi), 28 Juli Mikoshi arai (pencucian Mikoshi), dan 30 Juli Akhir perayaan Gion Matsuri yang disebut Nagoshimatsuri di kuil Eki.
7.      Hoko diantaranya, Naginataboko, Kankokuboko, Niwatorihoko, Tsukihoko, Funaboko, Ayagasaboko, Shijōkasaboko, Kikusuiboko, dan Hōkaboko. Yama diantaranya, Iwatoyama, , IwatoyamaHōshōyama, Kakkyoyama, Hakugayama, , Hōshōyama, HakugayamaAshikariyama, , AshikariyamaAburatenjinyama, , AburatenjinyamaTokusayama, , TokusayamaTaishiyama, Hakurakutenyama, Mōsōyama, Uradeyama, Uradeyama, Yamabushiyama, Araretenjinyama, Tōrōyama, Kita Kannonyama, Minami Kannonyama, Hashibenkeiyama, Koiyama, Jōmyōyama, Kuronushiyama, Ennogyōjayama, Suzukayama, dan Hachimanyama.
8.      , TaishiyamaAneka tradisi terdiri dari, Chimaki dan Tari Sagimai.




DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (2008). Matsuri. [Online]. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Matsuri (16 April 2008).

Anonim. (2008). Gion Matsuri. [Online]. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Gion_Matsuri. (16 April 2008).

Lily. (2004). “Gion Matsuri”. Animonster (17 Agustus 2004).

Yoshinori, Usui. "Gion Matsuri no kisō chisiki". ICPbis (Ikenobo College Press). Juli 2006. (Pengantar Gion Matsuri).