BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Jepang dikenal sebagai negara yang paling banyak mengadakan festival
(matsuri).
Boleh dikatakan hampir setiap bulannya ada saja festival yang dirayakan di
Negeri Sakura itu. Sebenarnya, festival di Jepang dirayakan bukan semata-mata
untuk bersenang-senang, tapi di balik semua itu ada kepercayaan terhadap dewa
yang diagungkan oleh orang Jepang. Kata
matsuri sendiri adalah kata
dalam
bahasa Jepang
yang menurut pengertian agama
Shinto berarti
ritual yang dipersembahkan untuk
Kami, sedangkan menurut
pengertian
sekularisme berarti
festival,
perayaan atau
hari libur perayaan. Jadi, setiap festival
memiliki makna penyembahan terhadap dewa.
Matsuri diadakan di banyak tempat di
Jepang dan pada
umumnya diselenggarakan
jinja atau
kuil, walaupun ada juga matsuri yang
diselenggarakan
gereja
dan matsuri yang tidak berkaitan dengan institusi keagamaan. Di daerah
Kyushu, matsuri
yang dilangsungkan pada
musim gugur disebut Kunchi
Sebagian besar matsuri diselenggarakan dengan maksud untuk mendoakan
keberhasilan tangkapan ikan dan keberhasilan panen (
beras,
gandum,
kacang,
jawawut,
jagung),
kesuksesan dalam bisnis, kesembuhan dan kekebalan terhadap penyakit,
keselamatan dari bencana, dan sebagai ucapan terima kasih setelah berhasil
dalam menyelesaikan suatu tugas berat. Matsuri juga diadakan untuk merayakan
tradisi yang berkaitan dengan pergantian musim atau mendoakan arwah tokoh
terkenal. Makna upacara yang dilakukan dan waktu pelaksanaan matsuri beraneka
ragam seusai dengan tujuan penyelenggaraan matsuri. Matsuri yang mempunyai
tujuan dan maksud yang sama dapat mempunyai makna ritual yang berbeda
tergantung pada daerahnya.
Pada penyelenggaraan matsuri hampir selalu bisa ditemui prosesi atau
arak-arakan
Mikoshi,
Dashi (Danjiri) dan
Yatai yang semuanya merupakan
nama-nama kendaraan berisi
Kami atau objek pemujaan. Pada matsuri juga bisa dijumpai
Chigo
(anak kecil dalam prosesi),
Miko (anak gadis pelaksana ritual),
Tekomai
(laki-laki berpakaian wanita),
Hayashi (musik khas matsuri), penari,
peserta dan penonton yang berdandan dan berpakaian bagus, dan pasar kaget
beraneka macam makanan dan permainan.
Kemeriahan pasar kaget (Hana
Matsuri-Ayu Matsuri)
Kios-kios yang berjualan
mainan atau
makanan
sering ditemukan di festival-festival di Jepang
B.
Sejarah Matsuri
Matsuri berasal dari kata
matsuru (menyembah, memuja) yang
berarti pemujaan terhadap
Kami atau ritual yang terkait. Dalam
teologi
agama Shinto dikenal empat unsur dalam matsuri: penyucian
(harai),
persembahan, pembacaan doa
(norito), dan pesta makan. Matsuri yang
paling tua yang dikenal dalam
mitologi
Jepang adalah ritual yang dilakukan di depan
Amano Iwato.
Matsuri dalam bentuk pembacaan
doa masih tersisa seperti dalam bentuk
Kigansai
(permohonan secara individu kepada jinja atau kuil untuk didoakan dan
Jichinsai
(upacara sebelum pendirian bangunan atau konstruksi). Pembacaan doa yang
dilakukan pendeta Shinto untuk individu atau kelompok orang di tempat yang
tidak terlihat orang lain merupakan bentuk awal dari matsuri. Pada saat ini,
Ise Jingū merupakan salah satu contoh
kuil agama Shinto yang masih menyelenggarakan matsuri dalam bentuk pembacaan
doa yang eksklusif bagi kalangan terbatas dan peserta umum tidak dibolehkan
ikut serta.
Sesuai dengan perkembangan zaman, tujuan penyelenggaraan matsuri sering
melenceng jauh dari maksud matsuri yang sebenarnya. Penyelenggaraan matsuri
sering menjadi satu-satunya tujuan dilangsungkannya matsuri, sedangkan matsuri
hanya tinggal sebagai wacana dan tanpa makna religius.
C.
Matsuri Terbesar
D.
Matsuri yang Terkenal Sejak Dahulu
2.
Daerah Kanto
Chichibuyo Matsuri
- Owarafū no bon
(kota Toyama, Prefektur Toyama, bulan September)
- Shikinenzōei Onbashira Daisai
(kota Suwa, Prefektur Nagano, diadakan setiap 6
tahun sekali, terakhir diadakan bulan April-Mei, 2004).
- Takayama Matsuri
(kota Takayama, Prefektur
Gifu, bulan April dan bulan Oktober)
- Furukawa Matsuri
(kota Hida,
Prefektur Gifu, bulan April)
- Aoi Matsuri (Kyoto, bulan Mei)
- Jidai Matsuri (Heian-jingu, Kyoto, bulan
Oktober)
- Tōdaiji Nigatsudō Shuni-e atau
dikenal sebagai Omizutori (Nigetsu-dō, kuil Tōdaiji,
Nara,
12 Maret)
- Kishiwada Danjiri Matsuri
(Kishiwada, Prefektur Osaka, 14-15
September)
- Nada no Kenka Matsuri
dan Banshū no Aki Matsuri
(Prefektur Hyogo, diselenggarakan lebih
dari seratus jinja di daerah Banshū dengan pusat keramaian di kota Himeji di bulan Oktober)
- Nachi no Hi Matsuri (Nachi Katsuura, Prefektur Wakayama, bulan Juli)
- Aizen Matsuri, Tenjinmatsuri
dan Sumiyoshi Matsuri
yang dikenal sebagai "Tiga Matsuri Musim Panas Terbesar di
Osaka" (Prefektur Osaka, bulan Juni-Juli)
5.
Daerah Chugoku dan Shikoku
E.
Festival dan Matsuri yang Lain
- Festival Salju Sapporo (Sapporo,
Prefektur Hokkaido, bulan Februari)
- Festival Salju Iwate (Koiwai
Farm, Shizukuishi, Prefektur
Iwate, bulan Februari)
- YOSAKOI Sōran Matsuri
(Sapporo,
Hokkaido,
bulan Juni)
- Niigata Odori Matsuri
(Niigata,
Prefektur Niigata, pertengahan bulan
September)
- Odawara Hōjō Godai Matsuri
(kota Odawara, Prefektur Kanagawa)
- Yosakoi Matsuri (kota Kochi, Prefektur
Kochi, 9-12 Agustus)
- Hakata dontaku (3-4
April, kota Fukuoka)
- Hamamatsu Matsuri
(3-5 Mei, kota Hamamatsu, Prefektur Shizuoka)
- Wasshoi
Hyakuman Natsu Matsuri (kota
Kita Kyūshū, Prefektur Fukuoka, hari Sabtu minggu
pertama bulan Agustus)
F.
Pembahasan Masalah
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Gion Matsuri
Gion Matsuri adalah festival
tahunan (
matsuri)
yang diadakan di
Kyoto
selama satu bulan penuh di bulan Juli. Perayaan dimulai pada tanggal
1 Juli
yang ditandai dengan ritual
Kippu iri dan diakhiri ritual Nagoshinoharae
pada tanggal
30 Juli.
Puncak-puncak perayaan Gion Matsuri berupa:
- Yoiyoiyama (malam
sebelum Yoiyama, 15 Juli)
- Yoiyama (malam
sebelum prosesi, 16 Juli)
- Yamaboko-junkō
(prosesi Yamaboko, 17 Juli).
Yamaboko adalah
istilah untuk
Yama dan
Hoko. Yama adalah kendaraan beroda (
float)
besar dari kayu dengan hiasan megah dan ditarik oleh banyak orang. Hiasan
kendaraan (
kenshōhin) pada Yama berupa benda-benda keagamaan dan
benda-benda seni seperti karpet yang didatangkan dari
Eropa dan
Tiongkok
melalui
Jalan Sutra.
Perdagangan dengan
Dinasti Ming mencapai puncaknya pada
zaman
Muromachi, sehingga motif dari luar negeri banyak dipamerkan dalam
Gion Matsuri. Masing-masing Yama mempunyai tema yang biasanya merupakan cerita
dongeng yang berasal dari Tiongkok.
Hoko adalah jenis
Yama dengan menara menjulang tinggi yang di ujung paling atasnya terdapat
hoko
(
katana
dengan mata di dua sisi) walaupun ada juga Hoko yang tidak bermenara. Hoko juga
dijadikan panggung untuk kelompok orang berpakaian
Yukata yang
terdiri dari pemain musik
Gionbayashi dan peserta yang berkesempatan
naik karena memenangkan undian hasil membeli
Chimaki atau
Gofu
(semacam
jimat). Musik
Gionbayashi yang
menurut telinga orang Jepang berbunyi "Kon-chi-ki-chin" baru menjadi
tradisi Gion Matsuri pada
zaman Edo.
Gion Matsuri adalah tradisi
yang berasal dari sekitar 1.100 tahun yang lalu. Pada tahun
869 konon terjadi wabah
penyakit menular yang mengganas di seluruh Jepang, sehingga perlu diadakan
upacara yang disebut
Goryō-e untuk menenangkan arwah orang yang
meninggal karena wabah penyakit menular. Pendeta Shintō bernama Urabe Hiramaro
membuat 66 pedang dengan mata di dua sisi (
hoko) untuk persembahan
kepada penjaga dari penyakit menular yang disebut dewa Gozutennō. Jumlah
Hoko
yang dibuat sesuai dengan jumlah negara-negara kecil (
kuni) yang
terdapat di Jepang pada saat itu. Upacara ini kemudian dikenal sebagai
Gion
Goryō-e, yang kemudian penyebutannya disingkat menjadi
Gion-e.
Sejak tahun
970 upacara terus
diselenggarakan setiap tahun hingga menjadi Gion Matsuri seperti sekarang ini.
Prosesi Yamaboko seperti yang dikenal sekarang ini konon berasal dari
tahun-tahun akhir
zaman Heian. Gion Matsuri sempat tidak
diselenggarakan sewaktu
Perang Onin, akibat kebakaran besar di era
Hōei, era
Temmei dan era
Genji, serta serangan udara pada
Perang Dunia
II. Gion Matsuri kemudian dihidupkan kembali oleh warga kota yang merupakan
pengusaha yang berpengaruh (
machishū).
Berbeda dengan Gion Matsuri
yang dikenal sekarang ini, prosesi Yamaboko yang menjadi puncak perayaan Gion
Matsuri pada tahun
1966
dilakukan dalam dua tahap:
- Zensai (prosesi Yama
dan Hoko pada tanggal 17 Juli)
- Ato Matsuri (prosesi
Yama saja pada tanggal 24 Juli).
C.
Prosesi Yamaboko
Klimaks Gion Matsuri berupa prosesi Yamaboko berlangsung tanggal 17 Juli
pagi di jalan Karasuma-dōri, Shijō.
Naginataboko yang menjadi pembuka
prosesi
Yamaboko, gambar terlihat di depan. Pada zaman sekarang, Yama
dan Hoko yang ikut serta dalam prosesi berjumlah 32 buah. Prosesi Yama dan Hoko
di jalan utama kota Kyoto dipercaya dapat mengumpulkan segala
penyakit
menular. Yama dan Hoko pulang ke lokasinya masing-masing setelah
puncak perayaan selesai untuk segera dibongkar dan disimpan di gudang. Yama dan
Hoko konon harus segera dibongkar sebelum penyakit menular kembali berjangkit di
permukiman penduduk.
D.
Penyelenggara
Gion Matsuri juga
diselenggarakan di beberapa tempat di Jepang oleh berbagai kuil agama
Shintō (
jinja)
yang menyandang sebutan kuil Gion (
gion-sha). Di kota
Fukuoka
(
Kyushu)
setiap tahunnya di bulan Juli juga diselenggarakan
Hakata Gion Yamakasa.
E.
Atraksi
1.
Pameran peninggalan budaya
Pada malam Yoiyoiyama dan
Yoiyama terdapat tradisi memamerkan benda-benda peninggalan budaya bernilai
tinggi yang disebut
Byōbu Matsuri (festival lukisan
penyekat ruangan). Pameran ini diselenggarakan di rumah-rumah keluarga
pengusaha yang berpengaruh (machishū) yang terletak di sekitar jalan raya utama
Karasuma-dōri. Pengunjung dapat melihat barang-barang yang menjadi kebanggaan
pemilik rumah.
2.
Penjualan obral
Di saat berlangsungnya Gion
Matsuri banyak toko-toko yang berada di sekitar lokasi Yama dan Hoko melakukan
penjualan
kimono,
yukata
dan perlengkapannya serta barang-barang produksi khas Kyoto seperti kipas lipat tradisional (
sensu)
dengan harga murah.
3.
Tsuji mawashi
Hoko yang berukuran besar
mempunyai ketinggian yang sama dengan gedung berlantai empat atau lima, sehingga penonton
banyak yang menantikan saat Hoko berbelok di persimpangan jalan yang disebut
Tsuji
mawashi. Salah satu Hoko yang diberi nama Naginatahoko menjadi pusat
perhatian pada saat berbelok karena Hoko ini mempunyai berat sekitar 10
ton. Roda-roda yang
dimiliki Hoko tidak bisa dibelokkan dengan mudah di atas aspal, sehingga roda
harus lebih dulu dialas potongan-potongan bambu yang disiram air agar Hoko
dapat berbelok dengan mulus.
4.
Chigo
Chigo adalah sebutan untuk
anak-anak yang dijadikan bintang dalam Matsuri. Gion Matsuri terkenal dengan
Chigo berupa anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun yang didandani dengan
riasan tebal. Naginatahoko merupakan satu-satunya Hoko yang berisi Chigo
sedangkan pada Hoko yang lain digantikan dengan boneka anak laki-laki.
Naginatahoko juga merupakan Hoko terpenting yang tidak boleh dinaiki oleh
wanita.
Pada bulan Juni setiap
tahunnya juga dilakukan pemilihan Kamuro yang terdiri dari 2 orang anak
laki-laki yang dilahirkan keluarga kaya di Kyoto. Kamuro berperan sebagai pendamping (kerai)
yang berdiri di samping kiri dan kanan Chigo.
Pada tanggal 1 Juli, Chigo
yang sudah dirias tebal melakukan berbagai macam ritual yang dimulai dengan
ritual Osendo bersama para pengikut kuil di kuil Yasaka. Di kuil Yasaka pada
tanggal 13 Juli, Chigo yang sudah berdandan lengkap dengan baju kebesaran
menerima gelar
Shōgo-i shōshō (setara dengan
daimyo yang
menerima 1.000.000
koku
). Setelah menerima gelar, Chigo dilarang berhubungan dengan keluarga dan
dilarang bertemu dengan perempuan hingga berakhirnya puncak acara pada tanggal
17 Juli.
Pada prosesi Yamaboko, Chigo
berpakaian lengkap
kimono Furisode dengan bahan kain bercampur serat
emas, celana Hakama,
dengan mahkota burung
Phoenix di atas kepala. Salah satu tugas Chigo dalam prosesi
Yamaboko disebut
Shimenawagiri berupa pemotongan tambang menggunakan
katana yang
menandai dimulainya prosesi Yamaboko.
F.
Jadwal perayaan
Minami Kannonyama
di malam Yoiyama
- 1 Juli Kippu iri
(ritual yang menandai dimulainya Gion Matsuri).
- 2 Juli Kujitori shiki
(upacara penarikan undian)
Urutan prosesi Yamaboko
dilakukan melalui undian di balai kota yang
dihadiri DPRD Kyoto dan walikota Kyoto.
Tradisi penarikan undian sudah dilakukan sejak
zaman
Muromachi dengan maksud untuk menghindari Yamaboko saling berebut
tampil lebih dulu dalam prosesi. Prosesi dibagi menjadi dua kelompok. Pada
prosesi kelompok I, Naginataboko selalu diberi urutan nomor 1 sebagai pembuka
jalan, Kankokuboko di urutan nomor 5, Hōkaboko di urutan nomor 21, Iwatoyama di
urutan nomor 22, dan Funaboko di urutan nomor 23 (urutan terakhir). Pada
prosesi kelompok II, Kita Kannonyama selalu mendapat kesempatan pertama,
diikuti oleh Hashibenkeiyama, dan Minami Kannonyama. Pada zaman dulu, jalan
utama Shijō-dōri masih berupa jalan yang sempit sehingga Naginataboko yang
lokasinya menutupi ujung jalan harus dijalankan lebih dulu agar Yamaboko yang
lain bisa lewat.
Di malam hari pada pukul 20:00 dilakukan
pencucian Mikoshi (tandu dewa Shinto) di sungai Kamo dengan penerangan
obor. Upacara pencucian Mikoshi dapat disaksikan
dari atas jembatan Shijō-ōhashi.
- 10-13 Juli Perakitan Yama
dan Hoko
- 14 Juli Yoiyoiyoiyama
Yama dan Hoko dipamerkan di lokasi
masing-masing dengan dihiasi puluhan
lampion. Pameran barang-barang bernilai
budaya tinggi (
Byōbu Matsuri) diadakan di rumah-rumah keluarga pengusaha
yang berpengaruh. Pasar kaget yang menyediakan berbagai macam makanan, minuman
dan permainan meramaikan pusat kota Kyoto yang untuk sementara
dikhususkan untuk pejalan kaki.
Malam kedua pameran Yamaboko dan Byōbu
Matsuri
Malam terakhir pameran Yamaboko dan Byōbu
Matsuri
- 17 Juli Puncak perayaan Gion
Matsuri yang disebut prosesi Yamaboko-junkō dimulai pukul 09:00
pagi. Yama dan Hoko ditarik oleh banyak orang di depan puluhan ribu
penonton dengan tujuan untuk menyucikan kota.
- 17 Juli Jinkōsai
(prosesi Mikoshi) yang dimulai pukul 17:00 sampai 21:00. Kami
(dewa) dari kuil Yasaka diusung dengan menggunakan tiga buah Mikoshi
(Higashigoza, Nakagoza, dan Nishigoza) dengan melewati rumah-rumah
pengikut kuil Yasaka menuju tujuan perjalanan (O-tabisho) yang terdapat di
Shijō Teramachi dan menginap selama 7 malam di sana. O-tabisho yang
digunakan sekarang ini adalah tempat yang dihadiahkan istana kaisar pada
tahun 974.
- 24 Juli Hanagasa-junkō
(prosesi Hanagasa yang merupakan pengganti Ato Matsuri)
- 24 Juli Kankōsai
(prosesi Mikoshi)
Kami dan Mikoshi
kembali ke kuil Yasaka dengan melewati rumah-rumah pengikut kuil Yasaka.
- 28 Juli Mikoshi arai
(pencucian Mikoshi)
- 30 Juli Akhir perayaan Gion
Matsuri yang disebut Nagoshimatsuri di kuil Eki.
G.
Daftar Yama dan Hoko
Ayagasaboko, salah satu contoh Hoko
tanpa menara
Funaboko
Kikusuiboko
·
Hoko
º
Naginataboko
º
Kankokuboko
º
Niwatorihoko
º
Tsukihoko
º
Funaboko
º
Ayagasaboko
º
Shijōkasaboko
º
Kikusuiboko
º
Hōkaboko
·
Yama
º
Iwatoyama
º
,
IwatoyamaHōshōyama
º
Kakkyoyama , Kakkyoyama
º
Hakugayama
º
,
Hōshōyama, HakugayamaAshikariyama
º
,
AshikariyamaAburatenjinyama
º
,
AburatenjinyamaTokusayama
º
,
TokusayamaTaishiyama
º
Hakurakutenyama , Hakurakutenyama
º
Mōsōyama
º
Uradeyama, Uradeyama
º
Yamabushiyama
º
Araretenjinyama
º
Tōrōyama
º
Kita Kannonyama
º
Minami Kannonyama
º
Hashibenkeiyama
º
Koiyama
º
Jōmyōyama
º
Kuronushiyama
º
Ennogyōjayama
º
Suzukayama
º
Hachimanyama , Taishiyama
, Mōsōya, Suzukaya, Hachimanyama
·
Yasumiyama (Yakeyama):
Yamaboko yang sekarang tidak bisa ikut serta dalam prosesi karena alasan
tertentu dari warga kota
pemiliknya atau rusak berat akibat kebakaran besar.
º
Hoteiyama , Hoteiyama: Menurut catatan sejarah,
Hoteiyama turut serta dalam prosesi di tahun 1500, tapi tidak ikut
serta sepanjang pertengahan zaman Edo (1751 - 1763). Pada kebakaran
besar di era Temmei, semua bagian Yama hangus terbakar kecuali objek pemujaan (go-shintai)
berupa Hotei (Budai atau "Buddha Tertawa") dan
dua patung anak-anak yang selamat. Patung Budai sekarang ini masih dipuja orang
pada malam Yoiyama. Plat cetak dari kayu produksi era Ansei yang digunakan untuk mencetak omamori
(jimat) untuk Hoteiyama berhasil ditemukan pada tahun 2005. Pada tahun 2006
kain tenunan yang digunakan sebagai hiasan Hoteiyama juga berhasil ditemukan
dalam penyimpanan milik salah satu industri lokal. Replika hiasan Hoteiyama
ikut dipamerkan pada malam Yoiyama.
º
Takayama , Takayama: Takayama berasal dari zaman sebelum Perang Onin dan berada tepat sebelum
Ōfuneboko dalam urutan prosesi, tapi hiasan kendaraan (kenshōhin) pada
Takayama rusak akibat hujan lebat di sore hari di tahun 1826. Bangunan kendaraan
ikut terbakar dalam kebakaran besar yang menyertai peristiwa Pemberontakan Hamaguri.
Sisa-sisa Takayama berupa objek pemujaan dan hiasan kendaraan ikut dipamerkan
pada malam Yoiyama.
º
Ōfuneboko , Ōfuneboko: Objek pemujaan berupa patung
Jingū-kōgō (istri kaisar) dan hiasan kendaraan selamat namun bangunan kendaraan
musnah terbakar dalam kebakaran besar Pemberontakan Hamaguri tahun 1864. Musik (hayashi)
khas Ōfuneboko berhasil dihidupkan kembali pada tahun 1996 berkat bantuan
pendukung Iwatoyama, sedangkan objek pemujaan dipamerkan pada malam Yoiyama.
H.
Aneka tradisi
Chimaki adalah kue dari
tepung
beras ketan dibungkus daun bambu yang
berfungsi sebagai penolak bala yang digantung di
genteng
nok pintu masuk rumah di Jepang. Chimaki banyak dijual di dekat diparkirnya
Yama selama perayaan Gion Matsuri.
Konon pada zaman dulu, dewa
kuil Yasaka yang bernama Susano Onomikoto yang sedang dalam perjalanan
mencari-cari tempat untuk bermalam. Secara tidak terduga, orang miskin yang
bernama Sominshōrai menyambut hangat kedatangan dewa Susano Onomikoto dan
memberi tempat menginap. Sebagai ucapan terima kasih, dewa Susano Onomikoto
berjanji memberikan kekebalan penyakit menular untuk seluruh anak cucu
keturunan Sominshōrai. Dewa juga memberikan Chinowa (lingkaran dari
anyaman daun bambu) untuk digantung di pinggang Sominshōrai agar kebal terhadap
penyakit menular. Chinowa merupakan asal-usul kue Chimaki yang juga dibungkus
daun bambu.
2.
Tari Sagimai
Tari Sagimai (tari burung
Kuntul) merupakan tari persembahan untuk para dewa yang diselenggarakan di kuil
Yasaka pada malam Yoiyama, 17 Juli, dan 24 Juli. Penari terdiri dari dua orang
yang mengenakan pakaian putih bersayap dari kain
sutra dan berperan sebagai
burung
Kuntul
jantan dan betina. Penyelenggaraan tari Sagimai dibiayai oleh pengikut kuil
Yasaka.
Tari Sagimai dulunya
dilakukan dengan mengelilingi salah satu Hoko bernama Kasasagihoko yang sudah
punah 600 tahun yang lalu. Pada pertengahan
zaman Edo,
tari Sagimai menghilang dari Gion Matsuri, namun tetap dilestarikan di kota Tsuwano,
Prefektur
Shimane. Pada tahun
1956 hingga tahun
2005, penyelenggaraan tari Sagimai dihidupkan kembali di Gion
Matsuri dengan mengambil tari Sagimai yang terdapat di Prefektur Shimane.
BAB III
KESIMPULAN
Dari berbagai pendapat dan sumber terpercaya akhirnya penulis dapat
mengambil kesimpulan :
- Gion Matsuri adalah festival tahunan (matsuri)
yang diadakan di Kyoto
selama satu bulan penuh di bulan Juli.
- Sejarah Gion Matsuri adalah merupakan tradisi yang berasal dari
sekitar 1.100 tahun yang lalu.
- Klimaks Gion Matsuri berupa prosesi Yamaboko berlangsung tanggal 17
Juli pagi di jalan Karasuma-dōri, Shijō.
- Gion Matsuri yang diselenggarakan secara bersama oleh kuil Ayatokunaka dan kuil Yasaka merupakan
salah satu dari tiga festival terbesar di Kyoto bersama-sama dengan Aoi
Matsuri (kuil Kamowakeikazuchi
& kuil Kamomioya) dan Jidai
Matsuri (kuil Heianjingū) dan juga dilaksanakan di beberapa
tempat di Jepang.
- Atraksi diantaranya, pameran peninggalan
budaya, penjualan
obral, tsuji
mawashi, dan chigo.
- 1 Juli Kippu iri (ritual yang menandai dimulainya Gion
Matsuri), 2 Juli Kujitori shiki (upacara penarikan undian), 10 Juli
Mikoshi arai, 10-13 Juli Perakitan Yama dan Hoko, 14 Juli Yoiyoiyoiyama,
15 Juli Yoiyoiyama, 16 Juli Yoiyama, 17 Juli Puncak perayaan Gion Matsuri
yang disebut prosesi Yamaboko-junkō, 17 Juli Jinkōsai
(prosesi Mikoshi), 24 Juli Hanagasa-junkō (prosesi Hanagasa yang
merupakan pengganti Ato Matsuri), 24 Juli Kankōsai (prosesi
Mikoshi), 28 Juli Mikoshi arai (pencucian Mikoshi), dan 30 Juli
Akhir perayaan Gion Matsuri yang disebut Nagoshimatsuri di kuil
Eki.
7. Hoko diantaranya, Naginataboko, Kankokuboko, Niwatorihoko, Tsukihoko,
Funaboko, Ayagasaboko, Shijōkasaboko, Kikusuiboko, dan Hōkaboko. Yama
diantaranya, Iwatoyama, , IwatoyamaHōshōyama,
Kakkyoyama, Hakugayama, , Hōshōyama,
HakugayamaAshikariyama, ,
AshikariyamaAburatenjinyama, ,
AburatenjinyamaTokusayama, ,
TokusayamaTaishiyama, Hakurakutenyama, Mōsōyama, Uradeyama, Uradeyama, Yamabushiyama,
Araretenjinyama, Tōrōyama, Kita Kannonyama, Minami Kannonyama, Hashibenkeiyama,
Koiyama, Jōmyōyama, Kuronushiyama, Ennogyōjayama, Suzukayama, dan Hachimanyama.
DAFTAR PUSTAKA
Lily. (2004). “Gion Matsuri”.
Animonster (17 Agustus 2004).
Yoshinori, Usui. "Gion Matsuri no kisō chisiki".
ICPbis (Ikenobo College Press). Juli 2006. (Pengantar
Gion Matsuri).