Minggu, 30 November 2008

anime-culture dan… jilbab

Ceritanya, tempo hari, sora-chan dan Kopral Geddoe sedang terlibat obrolan santai via Yahoo! Messenger. Dan mendadak, entah bagaimana, tahu-tahu mereka membicarakan amalgam dari dua hal yang (aslinya) sama sekali lepas dan tak berhubungan.
Kalau Anda memperhatikan judul di atas, tentunya Anda bisa menangkap bahwa dua hal yang tak berhubungan itu adalah anime-culture dan jilbab.
Apa? Anime-culture dan jilbab?

aniveil_para.jpg
Well, something like that… ^^;;

Jadi, sejak zaman kuda gigit besi anak SMA naik motor ke sekolah saya bertahun-tahun lalu, ada sebuah kecenderungan menarik yang saya amati. Dan, berhubung saya ini dulunya lumayan aktif di kegiatan ROHIS sekolah, maka kecenderungan ini jadi tampak semakin jelas dalam pengamatan saya. Bahwasanya, barang-barang Jepang (dan budaya manga-anime pada khususnya) tampak sangat berhasil memasuki selera anak-anak yang rajin nongkrong di masjid sekolah.
Bahkan, kalau mau jujur, justru anak-anak yang pola pikirnya cenderung ‘kanan’ ini lebih bisa menerima budaya Jepang, dibandingkan dengan counterpart-nya dari Eropa dan Amerika! :shock:
Bukanlah hal yang aneh, misalnya, jika Anda menemukan serombongan cewek berjilbab yang ngefans pada Himura Kenshin dan bahkan menetapkan kriteria cowok favorit mereka dari situ. Majalah dinding di masjid sekolah saya dihiasi ilustrasi bergaya manga. Beberapa rekan saya yang ikhwan bahkan rajin menonton Kapten Tsubasa dan InuYasha setiap minggunya — animo yang sangat besar bila dibandingkan dengan penerimaan terhadap barang-barang yang berasal dari Barat™. Anda bisa saja mengadakan kontes popularitas antara Sanosuke Sagara melawan Spider-Man, dan orang-orang lebih memilih Sanosuke… betapapun Spider-Man aslinya merupakan salah satu tokoh komik Amerika paling populer saat ini.
Seperti yang saya singgung sekilas di atas tadi, budaya Jepang tampaknya sedang tumbuh subur di kalangan muda Islam. Atau, setidaknya, di kalangan yang tumbuh di lingkungan bernuansa Islam cukup kental.

Seperti apa sebenarnya gejala ini?

Waktu itu, Geddoe menyampaikan bahwa ada kecenderungan yang menarik di sebuah forum ‘hijau’ yang ia temukan di internet. Bahwasanya, di forum tersebut terdapat generasi pengguna yang merupakan amalgam antara identitas “Islam” dan “anime-culture”.
Singkatnya,
Anak-anak yang bangga dengan identitas keislaman mereka — ketika, di saat yang sama, menggemari anime dan manga sebagai hiburan tersendiri.
Intinya sendiri cukup jelas. Di satu sisi, anak-anak dari generasi ini merasa bangga sebagai seorang muslim per se. Meskipun demikian, mereka tidak lantas terpaku pada budaya Islam (terutama Islam-Arab) saja — di sisi lain, mereka juga mengakomodasi masukan dari budaya di luar itu. Kebetulan, budaya Jepang-lah yang dirasa cocok untuk mengisi porsi masukan tersebut.
Bahkan, dalam banyak kasus, penetrasi budaya ini menghasilkan amalgam anime-islami sebagaimana yang saya contohkan dengan gambar di atas. Hal inilah yang terjadi ketika sarana dan buletin dakwah ditaburi oleh ilustrasi bergaya manga — atau ketika avatar cewek berjilbab dan cowok berkopiah menjadi pilihan di forum-forum internet. Dengan satu dan lain cara, “anime-culture” dan “Islam” seolah-olah bisa dipersatukan dan mempunyai embodimen tersendiri di lingkungan kita.
Akibat lainnya? Tentu saja jadi tidak sulit untuk menemukan, bahwasanya seorang cewek berjilbab pun bisa membuat list karakter cowok anime kesukaannya. :mrgreen:
*ditimpuk Grace* x(

Tentunya gejala semacam ini tidak muncul tiba-tiba. Pasti ada penyebabnya.

Hal itulah yang kemudian melintas jadi topik pembicaraan tempo hari. Mengapa barang-barang Jepang, seperti anime dan manga, bisa diterima dan berbaur dengan budaya “Islam” yang ada di Indonesia, sampai-sampai mengalahkan counterpart mereka dari Amerika dan Eropa? :?
Maka, kami (baca: saya dan Geddoe) pun bertukar hipotesis soal ini.
Menurut saya,
Mungkin, karena di bawah sadar sudah terbentuk image bahwa Amerika™, Barat™, dan antek-anteknya™ sudah terstigma negatif, maka generasi ini cenderung menolak hal-hal yang berasosiasi dengan cap tersebut. Dalam kasus ini, Jepang tidak terkesan se-clash-confronting itunya amat terhadap Islam bila dibandingkan dengan Barat. Ini menjadi faktor penarik yang potensial untuk generasi muda Islam yang gerah terhadap budaya Barat™ yang terlalu permisif™ ( :P ) ; lantas menjadi alternatif hiburan yang bisa diterima.
Geddoe sendiri mempunyai pendapat yang rada berbeda:
Setidaknya, ada satu hal yang membuat Islam [sekurangnya di bawah sadar] merasa perlu untuk mem-blend diri mereka dengan budaya pop. Hal yang sama berhasil dilakukan dengan baik oleh sang (supposedly) arch-enemy, Kristen. Ingat Christ Rock, serta penampilan organisasi Gereja di dunia hiburan: Van Helsing, Chrno Crusade, dan lain-lain sebagainya.
Kartu as ini tidak dimiliki Islam. Oleh karena itu, tampaknya terbentuk keinginan agar, entah bagaimana, Islam pun bisa berbaur dan memiliki perwakilan di bidang pop-culture.
Tapi, mengapa Jepang diterima? Bukankah negara ini sendiri cenderung sekuler, sama seperti Eropa dan Amerika? Bahkan dunia hiburan mereka pun juga cenderung permisif — sebagaimana yang bisa kita temukan pada berbagai barang-barang ecchi dan H.
Untuk ini, saya kemudian berpendapat bahwa
Memang benar budaya Jepang mempunyai sisi permisifnya sendiri. Dan mereka memang cenderung menganut liberalisme — tak jauh beda dengan Amerika maupun Eropa pada umumnya.
Tapi, meskipun begitu, ada pengecualian: budaya Jepang, yang diwakili oleh hiburan mereka, memiliki nilai-nilai Timur yang dihargai oleh kita di Indonesia… yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Keutamaan akan sikap sopan; keadaan keluarga yang guyub; hormat pada guru/senior; dan semangat individualisme yang lebih rendah dibandingkan dengan counterpart mereka dari Barat. Inilah yang tercermin di berbagai media, baik itu manga, anime, ataupun dorama.
Di Party of Five dan Friends, Anda menemukan anak-anak yang berusaha mandiri dan jauh dari orangtua — tetapi, di Ichi Rittoru no Namida dan Dragon Zakura, misalnya, Anda menemukan bahwa orangtua dan keluarga adalah hal yang sama pentingnya dengan usaha menjalani hidup dan menjadi dewasa.
Dan, dengan demikian, kita melihat bahwa terdapat faktor pendorong dan penarik yang, dengan satu dan lain cara, membuat budaya Jepang terkesan lebih favorable di mata generasi muda Islam yang dibahas sebelumnya. Tentunya perlu dicatat bahwa semua penjelasan di atas hanyalah hipotesis murni — yang secara brutal dilempar-lempar melintas lautan lewat HTTP port 8080 oleh IM client kami masing-masing ( :P ). Dugaan-dugaan ini masih perlu dibuktikan kebenarannya. ^^

As The Dust Settles

Tentunya dialog di atas tidaklah bermaksud menyatakan bahwa “budaya Jepang lebih baik daripada budaya Barat”, atau malah meninggi-ninggikan bahwa “anime-culture itu cocok diamalgamkan dengan budaya Islam”. No, that’s not it. Kenyataannya, menurut saya, kecenderungan bahwa sebuah generasi kini memadukan keduanya adalah hal yang cukup menarik untuk dibahas — walaupun secara iseng-iseng — dan saya yakin bahwa rekan chat saya waktu itu pun berpendapat demikian. Bukan begitu, Kopral? :mrgreen:
Hence the chat summary. ;) Ada pendapat lain?
—–
Ps:
…dan sekarang saya jadi teringat seorang cewek berjilbab sekelas saya waktu SMA. Waktu itu guru sejarah meminta setiap anak membuat 20 soal pilihan ganda tentang Restorasi Meiji — dan dia mengerjakannya bermodal manga Rurouni Kenshin. Doh. x(

PPs:
No, I didn’t develop any serious crush for her. Just in case you’re wondering. ;)
for me...: wekkk gubrak*… ada yg kesindir neh secara aq cw yg pakai jilbab tapi demen bgt ama anime+manga+dorama+jejepangan lainnya n ga tau dech tuh penyakit blum ilang2 dari sejak sd ampe sekarang kuliah… tapi yah klo aq ambil positifnya aja dech… banyak lagi anime yg bagus kaya rorouni kenshi yg penuh makna& sejarah wualah... yahhh selama yg kita tonton or baca gak N** or h** malu donk ama penampilan misl : dragon zakura menurutku dorama yg sangat bagus disana kita diajarin untuk terus maju dan gak menyerah n gak mesti diembel2in ama roman2 yg extrim kaya di film2 bule yg malah ama sinetron kita mulai ditiru wekwekwek
thanks to sora9n for this a chat_ from blogs tetangga...

6 komentar:

Lant Shiranui mengatakan...

Hal yang sama berhasil dilakukan dengan baik oleh sang (supposedly) arch-enemy, Kristen --> tolong yah, ati2 klo mo nulis ini di blog yg bisa dibaca org laen....

KochiChingu^^ (arini) mengatakan...

ckckck.... sayangnya saya pun dapat neh tulisan dari blogs yg dapat dibaca siapapun...^^ tapi alangkah baiknya klo dirimu menjelaskan lebih detail lagi hati2nya itu knapa?mungkin lain kali akan aq edit lagi...^^

Suri Chan mengatakan...

well,.........agak sulit juga sih....

feriyadi ramansyah mengatakan...

Waduh, rumit jg permasalahannya... tp emg rata2 anak DKM/ce yg pke krudung suka bgt jejepangan...mreka rata2 gila sama animenya...

kalau saya? emg sama kaya kbanyakan org yg rata2 suka je2pangan gara2 anime, tp makin ksini saya mah lebih suka sama bahasa+etos kerja mereka....bisa dijadiin semangat pas lagi males2nya, lsg mikir: "org jpg aja bs sukses gara2 rajin, org jpg g ada yg males!"(ada jg yg males,tp jauh jumlahnya dgn di INA). langsung semangat berkobar sedikit2...
ada manfaatnya jg bljr b.jpg... nambah kekuatan memory gara2 ngapalin kanji, juga kalau suatu saat bisa belajar kesana...

KochiChingu^^ (arini) mengatakan...

karena bukan aq yg nulis^^...emang sulit&complex juga seh,,, well kita ambil positifnya ajalah dari manapun juga key... tpi klo banyak negatifnya kita tinggalin aja dech... ^__^
yupz... klo aq kayaknya gara2 suka anime jdi suka ama semuanya + bahasanya juga tpi sekarang dah belajar ternyata rumit juga masalahnya ama si kanji hahaha...^__^

feriyadi ramansyah mengatakan...

emg ribet sih yg namanya kanji.tp kalo kita udh hafal pisan mah enak... malahan kalo ada kata yg umumnya dtls pake kanji,tp dtlsnya pake hiragana suka rada pusing bcanya.apalagi kalau perubahan pangkal katanya sama, kalau dtls pake hiragana kan pusing g tau artinya....
udh diajarin jenis2 kanji kan d sasjep? kalau saya mah punya teknik sendiri ngapalinnya... sy suka nyebut TIPE AIR, TIPE ORANG, TIPE RUMPUT, TIPE SAWAH dll... ditambah rajin nulis+baca kanji, pasti jadi bisa deh....dgn rajin baca juga bisa nambah on/kun yomi nya...dari nama nihonjin apalagi(tp rata2 nama nihonjin pake kun-yomi, sepengetahuan saya ya ;)

Posting Komentar